Kongres AVA ke-21: Penilai di ASEAN Mengantisipasi Efek Perang Dagang AS-RRT

9/26/2018 2:36:42 PM

YOGYAKARTA 26/9/2018 PPPK. Tahun ini, Indonesia mendapat kehormatan sebagai tuan rumah Kongres Asosiasi Penilai se-ASEAN ke-21 yang diselenggarakan di Hotel Tentrem, Yogyakarta.

Selasa (25/9/2018), The 21st ASEAN Valuers Association Congress resmi dibuka oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati didampingi oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto dan Kepala Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK) sekaligus Presiden AVA, Langgeng Subur.

Acara yang melibatkan para penilai sekaligus regulator penilai di kawasan ASEAN ini diselenggarakan oleh ASEAN Valuers Association (AVA), bekerja sama dengan Kementerian Keuangan RI, dan Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI).  Kongres dihadiri oleh negara anggota AVA yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Kamboja, Brunei Darussalam, dan  Vietnam. Selain itu, delegasi Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan turut hadir dalam perhelatan tahunan ini.

“Salah satu tujuan dari AVA adalah meningkatan pengetahuan dan wawasan negara-negara anggota di bidang penilaian sebagai salah satu faktor pendorong ekonomi nasional,” ungkap Presiden AVA, Langgeng Subur.

Dalam sambutan pembukaannya, Presiden AVA yang juga Kepala Pusat Pembinaan Profesi Keuangan berharap pertemuan ini dapat dijadikan sebagai sarana bertukar informasi dan menjalin kerja sama saling menguntungkan bagi seluruh penilai di kawasan ASEAN dalam menghadapi tantangan regional maupun global. Pemahaman yang tepat tentang kondisi perekonomian secara global, akan memberikan pertimbangan bagi setiap langkah yang diambil dalam pengembangan profesi penilai di masing-masing negara AVA sehingga dapat menjadi bagian pendorong kemakmuran masing-masing negara.

Mengacu pada tema Valuation to The Next Level, Valuer’s Roles and Challenges Beyond Valuation Services in Regional Economic Development, Menteri Keuangan menyampaikan tiga poin penting yaitu perkembangan ekonomi global dan regional, era disrupsi teknologi dan ekonomi digital, serta peran dan tantangan bagi profesi penilai di ASEAN dalam merespons perubahan tersebut.

Masih dalam suasana perang dagang antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok yang memengaruhi keseluruhan dunia, setiap negara perlu memahami dinamika tersebut dan implikasinya terhadap kemampuan negara dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Saat ini dunia sedang dihadapkan pada kondisi perekonomian global yang penuh gejolak sebagai akibat kebijakan ekonomi di Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok yang tengah terlibat dalam perang dagang. Menteri berpesan agar para pelaku ekonomi tetap waspada dan memantau perkembangan ekonomi dunia untuk mencegah perluasan efek negatif dari perang dagang tersebut.

Kondisi tak menentu ini menciptakan dinamika yang menantang sepanjang tahun ini dan pasti akan memiliki efek risiko pada prospek perekonomian hingga 2019.

Sri Mulyani berharap para penilai publik dapat memanfaatkan kongres ini sebagai sarana dalam merumuskan kerangka kerja sama yang kuat.  Diharapkan juga, aktivitas riset di bidang penilaian akan meningkat sehingga metode yang digunakan dalam menilai properti dan bisnis akan lebih mutakhir, akurat, dan terkoordinasi.

Ditambahkan, perkembangan teknologi yang semakin memudahkan akses kepada informasi dapat dijadikan bahan untuk berdiskusi serta meningkatkan kerjasama dan pemahaman antarpenilai di ASEAN.

“Kolaborasi antara pemerintah dan profesi serta pelaku industri sangat diperlukan dalam memajukan ekonomi digital,” demikian Menteri Keuangan menekankan.

Penilai juga dituntut senantiasa meningkatkan kualitas jasa, beradaptasi pada perubahan, dan melakukan inovasi sehingga dapat memberikan jasa secara lebih efisien dan efektif namun tetap mengedepankan profesionalisme.

Di hari pertama kongres, delegasi delapan anggota AVA memaparkan laporan perkembangan ekonomi dan properti masing-masing negara, dilanjutkan dengan diskusi panel bertajuk How a Tech-Unicorn Creates Value. Diskusi ini menghadirkan Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia Fajar Hutomo, Co-founder Bukalapak Muhamad Fajrin Rasyid, Managing Director Mandiri Capital Eddi Danusaputro, dan Managing Director Duff and Phelps Singapore Srividya Gopalakrishnan.

Kongres hari pertama ditutup dengan agenda Prambanan Tour dan Gala Dinner di Kompleks Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Penulis: Ima Listyaningrum | Penyunting: Suryadi | Fotografer: Nurul Hidayati

Back to List


Eselon I Kementerian Keuangan