Aktuaris, Manfaatkan Big Data!

4/6/2018 2:00:42 PM

SURABAYA 6/4/2018. Terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 247/PMK.06/2016 tentang Pengasuransian Barang Milik Negara membuka lahan baru yang cukup menarik bagi perusahaan asuransi di Indonesia. Sebelumnya ini, barang milik negara (BMN) tidak boleh diasuransikan, namun setelah kini BMN yang berupa gedung pemerintah, jembatan, kendaraan, atau lainnya dapat diasuransikan.

Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) diharapkan bisa bekerja sama dengan pemerintah dalam hal pelaksanaan PMK dimaksud. Harapan tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK), Langgeng Subur pada hari pertama Seminar Big Data 2018 dengan tema “From Theory to Reality” yang diselenggarakan di Gedung Keuangan Negara Surabaya I, Selasa (3/4/2018).

Seminar itu terselenggara berkat kerja sama antara PPPK dan PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau lebih dikenal dengan nama IndonesiaRe, dihadiri oleh perwakilan PAI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), akademisi, aktuaris, dan juga beberapa perusahaan asuransi.

Direktur IndonesiaRe, Kocu Andre Hutagalung, yang membuka jalannya seminar menyampaikan bahwa di era globalisasi yang semakin modern ini, hampir semua hal dijalankan dengan teknologi canggih. Lihat saja teknologi komputer elektronik yang di masa depan akan tergantikan oleh komputer fotonik dan akan terus berkembang. Begitu pula profesi aktuaris, khususnya di bidang perasuransian.

Saat ini ada empat pilar utama yang harus dimiliki seorang aktuaris di bidang perasuransian yaitu kecepatan, konektivitas, kemampuan daya penyimpanan, dan aktivasi intelijen. Dalam dunia perasuransian, mahadata (big data) sangat berguna untuk memproyeksi masa depan dalam menentukan premi asuransi. Dalam industri di Indonesia yang kualitas datanya yang kurang memadai, pengembangan mahadata menjadi suatu hal yang penting.

Sementara itu Wakil Ketua PAI, Ade Bungsu, menuturkan bahwa pengembangan profesi aktuaris adalah tujuan utama PAI sekarang ini. Big data menjadi terminologi dan dapat sebagai sinyal untuk menyesuaikan diri agar dapat berkembang sehingga memudahkan pengambilan keputusan dalam dunia perasuransian pada khususnya. Selain itu dalam penelahaan risiko, aktuaris juga sangat membutuhkan mahadata ini. “Profesi aktuaris harus menjadi golongan yang proaktif terhadap kegiatan pembangunan dan pengembangan big data seperti ini,” pesan Ade Bungsu.

Big data merupakan bagian dari revolusi teknologi yang memiliki enam pilar utama, yaitu volume, variety, velocity, veracity, visualization, dan value. Demikian disampaikan Nico Demus, narasumber  dari IndonesiaRe. Nico berpendapat bahwa data dihasilkan oleh semua entitas yang ada di bumi ini, sehingga diperlukan adanya pengolah mahadata untuk memudahkan para pengguna data untuk memperoleh manfaat sebesar-besar. Sebagai contoh, klaim asuransi yang pada musim-musim tertentu menunjukkan tren yang beragam dapat memacu kreativitas pengelolaan mahadata. Tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para aktuaris khususnya di bidang perasuransian di era big data ini adalah tools, sumber daya manusia, pembersihan data, dan kesabaran dalam memahami data.

Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sapto Wahyu Indratno pun angkat bicara mengenai permasalahan mahadata ini. Dosen yang sudah banyak makan garam mengenai data ini menjelaskan bahwa teknologi berkembang pesat, ditandai dengan pertumbuhan data yang semakin besar, perilaku konsumen berubah sangat cepat, dan aplikasi digital semakin merajalela. Kepada seluruh aktuaris yang ada di Indonesia, ia mengimbau agar terus berinovasi dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah ada sekarang. Aktuaris harus dapat memanfaatkan segala sesuatu yang didapat dari mahadata tersebut, demikian pesan Sapto Wahyu Indratno.

Penulis: Fredika Wahyu S | Penyunting: Seto Hernawan/Suryadi | Fotografer: Seto Hernawan

Back to List


Eselon I Kementerian Keuangan